Rabu, 26 Agustus 2020

Iman kepada Qadha, Tawakal dan Usaha

 

Iman kepada Qadha, Tawakal dan Usaha

 

Salah satu rukun iman yang wajib kita yakini adalah kita percaya pada Qadha dan Qadar baik buruk dari Allah swt.

Yang dimaksud beriman kepada Qadha Allah  beriman kepada Qadha Allah  adalah kita meyakini kepada apa yg menjadi ketetapan Allah baik dan buruk berasal dari Allah dimana ketetapan itu kita tidak bisa menolaknya.  Allah menetapkan  QadhaNya pada kita seperti, rezeki, ajal, amalnya, bahagia dan susah. Kita wajib mengimaninya bahwa ia ketetapan Allah, baik atau buruk menurut pandangan kita. Allah telah menetapkan untuk berbakti kepada orang tua, tidak menyembah selain kepadaNya juga merupakan qadha Allah.

Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(TQS: Al Isra: 23)

 

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

 

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643)

 

 

 

Diantara Qadha Allah yang lain adalah bahwa Allah SWT mempergilirkan setiap umat an peradaban. Bangkit, Berjaya, melemah kemudian akhirnya runtuh. Itulah juga yang dialami umat Islam, pasang surut, bangkit, kuat melemah lalu akhirnya runtuh.

Allah berfirman:

وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

 

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,(TQS: Ali Imran: 140)

Allah SWT juga menetapkan melalui qadhaNya  umat Islam akan bangkit dengan kebangkitan yg sama dengan kebangkitan yg pertamanya yaitu khilafah ala minhajinnubuwwah setelah mereka berada dalam beberapa fase kekuasaan sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

Dari Hudzaifah r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

 

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ  فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

 

Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

 

Jadi perkara kebangkitan umat Islam ini adalah menyangkut perkara keimanan kepada Qadha Allah, karena ia adalah janji Allah yang ia janjikan melalui ayatNya dan lisan RasulNya.

Allah berfirman:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Kalau demikian adanya, lalu apa bedanya kita berjuang mencari rezeki, berupaya utk mendapatkan khusnul khatimah, berbakti kepada orang tua, berupaya agar kita terus istiqamah dalam keimanan agar hanya menyembah kepadaNya,  serta berupaya mewujudkan kejayaan umat Islam?

Artinya, berjuang untuk mendapatkan rezeki, bejuang untuk husnul khatimah, berjuang untuk mendapatkan keridhaan orang tua, berjuang untuk kebangkitan umat hakekatnya sama, yakni berupaya untuk mendapat sesuatu yang sebenarnya telah memaksa kita.

Disinilah perlunya pemahaman yang benar tentang kedudukan tawakkal. Mengapa demikian? Karena yg punya qadha adalah Allah; yg menentukan kapan ketentuan itu akan terwujud juga Allah; yang menentukan berhasil Allah,  maka sikap tawakal adalah sikap yakin dan percaya kepada Sang Pemilik urusan; pemilik ketetapan. Sikap tawakkal adalah sikap iman dan berserah diri kepada Zat yang maha segala-galanya.

Imam Al ghazali mengatakan dalam kitab Attauhid wa at tawakkul:

اعلم أن التوكل من باب الإيمان، وجميع أبواب الإيمان لا تنتظم إلا بعلم وحال وعمل، والتوكل كذلك ينتظم من - علم - هو الأصل و - عمل- هو الثمرة و - حال - هو المراد باسم التوكل.

Ketahuilah bahwa tawakkal adalah salah satu bab iman. Semua bab iman tidak akan tersusun kecuali ilm, hal dan ‘amal. Tawakkal seperti itu juga, ia tersusun dari ilm (keyakinan) sebagai pokoknya, amal adalah buahnya dan halnya adalah tawakkal.

 

Jadi tawakkal menurut beliau letaknya setelah keimanan, karena memang demikianlah realitasnya, tawakkal adanya setelah keimanan. Allah berfirman:

وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين

 

وعلى الله فليتوكل المتوكلو

 

إن الله يحب المتوكلين

 

 

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa yg bertawakl niscaya ia akan mencukupkannya.(TQS: At Thalaq: 3)

Sikap tawakkal inilah seharusnya yang menyebabkan seriusnya seorang muslim dalam berusaha dan berikhtiar. Ia akan menjaga agar ikhtiarnya agar senatiasa dalam rangka mentaati perintahNya.

Sikap tawakkal ini yang menjadikan seorng muslim senantiasa mengkaitkan kaidah sebab akibat (sababiyah) dan tidak mudah pasrah dengan keadaan. Ia tidak akann berputus asa. dan berpangku tangan. Ia tidak mau mengharapkan kebangkitan Islam turun begitu saja dari langit laksana turunnya hujan.

Orang yang memiliki sikap tawakkal yang benar akan senatiasa mencontoh Rasulullah. Karena Rasulullah SAW lah suri teladan. Beliau adalah manusia terbaik, manusia yang terbaik imannya, pasti benar tawakkalnya. Beliau didampingi penghulu para malaikat, malaikat Jibril, namun Beliau tetap melakukan usaha dan ikhtiar. Bahkan dalam usaha dan ikhtiar Beliau selalu mencontohkan yang sangat maksimal, sehingga kemenangan Islam yang dijanjikan dapat diraih.

Dalam dakwah Beliau memilih shahabat-shahabat tertentu untuk tugas-tugas tertentu. Dalam perang Beliau memilih strategi terbaik, memberi arahan kepada para komandan dan pasukan.

Perilaku Rasulullah ini kemudian dicontoh pula oleh para sahabat Radhiyallahu anhum sehingga Islam tersebar keseluruh penjuru dunia. Kemudian dikuti pula oleh generasi setelahnya yang mengikuti mereka dengan benar.

Namun setelah terjadi kemunduran, setelah terjadinya kekeliruan dalam memahami tawakkal muncullah generasi pemalas, generasi yang pasrah pada takdir dengan alasan telah bertawakkal dengan benar. Generasi yang selalu menggantungkan nasibnya pada keajaiban.  

 

Oleh karena itu, bangkitnya Islam yang akan datang adalah sebuah kepastian. Berdirinya khilafah yg kedua juga adalah kepastian karena ia adalah qadha Allah SWT.  Maka yang deiperlukan adalah sikap dan peran dalam meyongsong sebuah kepastian.

Kita tidak bertanggung jawab untuk menentukan hasil. Yang dinilai adalah sejauh mana kesungguhan dan proses yang kita lalui untuk menyongsong wa'dullah dan busyra Rasulillah tersebut.

Ini saja alasan kita kenapa kita mau berjuang, meskipun mungkin tidak ada orang lain yang berjuang selain kita.

Wallahu a'lamu bishshawab

 

 

Tidak ada komentar: